LABORATORIUM PENDIDIKAN SEJARAH FIS UNY ADAKAN LATIHAN KEPENULISAN SEJARAH BERSAMA PENELITI MUDA SECARA VIRTUAL

Merebaknya COVID-19 tidak menyusutkan semangat Asisten Laboratorium Pendidikan Sejarah FIS UNY untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas keilmuan sejarah. Tepat pada hari Kamis, 25 Juni 2020 Laboratorium Pendidikan Sejarah FIS UNY mengadakan Pelatihan Kepenulisan. Pelatihan yang dilakukan Pukul 15.00-16.30 WIB tersebut di pandu oleh Pina Dhea Tafana (Ketua Laboratorium Pendidikan Sejarah FIS UNY 2020-2021). Sedangkan pemateri acara tersebut adalah Muhammad Ichsan Budi. Ichsan merupakan Peneliti Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhamadiyah yang saat ini tengah melanjutkan studi di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Acara ini juga turut dihadiri oleh Ibu Diana Trisnawati, S.Pd, M.Pd selaku Kepala Laboratorium Pendidikan Sejarah FIS UNY Bidang Sejarah Pendidikan.

Acara Pelatihan Kepenulisan tersebut merupakan rangkaian kegiatan kepenulisan pertama yang dilakukan secara berkala. Kegiatan Pelatihan Kepenulisan wajib di ikuti oleh Asisten Laboratorium Pendidikan Sejarah Bidang Sejarah Pendidikan sebanyak tujuh orang guna mengembangkan potensi secara optimal. Antusiasme yang sangat besar dari asisten laboratorium (selanjutnya di sebut Aslab) sendiri membawa dampak turut sertanya sebagian besar Aslab dalam kegiatan tersebut sehingga jumlah peserta lebih dari yang di targetkan (mencapai 15 orang). Materi yang disajikan pada Petalihan Kepenulisan #1 mengenai Heuristik dan Analisis Sumber.

Pada sesi pemberian materi, Ichsan sempat menuturkan bahwa sudah saatnya para sejarawan, penulis sejarah, dan atau mahasiswa sejarah merubah paradigma sejarah dari paradigma lama menjadi paradigma baru. Orang yang memiliki paradigma lama akan bingung menemukan sumber sejarah, sedangkan bagi yang memiliki paradigma baru maka akan relatif mudah menemukan sumber sejarah karena semua berangkat dari ide dan ide akan tetap hidup sepanjang pencarian sumber sejarah. Tidak hanya itu, Ichsan juga mengatakan bahwa apapun bisa di tulis menjadi sebuah sejarah karena yang terpenting adalah ide itu sendiri, jika menulis dari ide maka penulisan sejarah akan terus berkembang. Implikasinya tulisan sejarah akan bernilai sesuai dengan perkembangan zaman. Pada akhir acara Pina Dhea mengutarakan bahwa hasil Pelatihan Kepenulisan ini memiliki kelanjutan pembahasan yang disebut sebagai  Pelatihan Kepenulisan #2. (pina)

Bahasa Indonesia